1 Tahun Bersama Oriflame dan d’BCN (Part 1)


Di bisnis yang 1 lagi, bakul kue, saya selalu mengingat hari ulangtahun ketika si binis itu dibangun. Saya menghargai, setiap tetes keringat dan perjuangan, oleh saya dan suami, mengingat lagi setiap hari yang dilalui untuk bertahan, untuk bangkit dari jatuh dan untuk berjuang lagi, demi kehidupan yang lebih baik, lebih nyaman di masa depan.

Demikian juga di bisnis ini, perjalanan berkarir di Oriflame dan d’BCN, hal yang dulunya tidak pernah terpikir akan menjadi bagian dari hidup saya, karena sebelumnya sangat anti dan alergi dengan MLM.

Perjalanan ini dimulai dengan melihat profil FB teman blogging yang sudah lama sekali nggak contact lagi, melihat FB nya mbak Astri, bundanya Azka, yang dengan cantik memegang papan Cash Award 28 juta rupiah, dan ada tulisan ORIFLAME di bawahnya.

Trus saya inbox di FB, “mbak, ceritain dong tentang Oriflame mu…” Nggak sampe 5 menit (padahal itu udah sore mau malem), dibalas inbox saya (inilah pentingnya kecepatan follow up ya), dengan kata-kata yang sangat welcome banget! Dibagilah pengalamannya selama 2 tahun ini, kemudian minta bertukar PIN BB. Tidak sampai disitu saja. Begitu saling invite BB, lama sekali, BBMan berdua, saya diminta isi data member, nggak mau, hahaha, maunya isi data prospek aja. Tapi saking gigihnya mbak Astri, gemeteran, saya isi juga data untuk bergabung jadi member. Saya masih ingat, deg-degannya menyerahkan gambar KTP, sambil bingung, apa yang saya lakuin ini bener apa nggak.

Sekilas berkelebat bayangan, bahwa saya akan dijauhin teman-teman karena ikut-ikutan MLM, si bisnis pencari mangsa.

BBMan berlanjut. Sampe pada suatu titik saya ditanya, apa yang kurang dari hidupmu.
Saya jawab, nggak ada.
Ditanya lagi, adakah seseorang yang ingin kamu bahagiakan?

Tiba-tiba saya nangis. Nangiss bangeet!
Sebelah saya waktu itu suami udah duluan tidur.
Saya ingat bagaimana beliau mendukung saya selama ini.
Membangun bisnis kue dari 0, dengan modal kepercayaan pada istrinya yang nggak punya pengetahuan apa-apa tapi nekat mau jualan kue.
Membolehkan nekat resign dari kantor dan hanya menggantungkan hidup pada gajinya.
Memulai usaha kue, dibeliin oven kecil, dibantu disusun di dapur, dibelikan loyang, alat-alat lain.
Komputer dan internet disediakan supaya saya nggak bosan di rumah.
Merelakan rumah kecil kami berantakan oleh istrinya yang eksperimen ini dan itu.
Rela pulang kerja Jakarta-Depok, sampe rumah bantu bungkusin kue ke dalem box, dipitain, guntingin stiker.
Rela harus berangkat lebih pagi untuk sambil berangkat kantor kita berdua naik motor dulu nganter pesenan.
Rela pulang kantor nggak disambut senyuman tapi kadang-kadang saya lagi nangis habis diomelin customer, atau saya yang curhat kuenya hancur, harus bikin lagi, dan mendengarkan semua keluhan saya sampe saya selesai.

Katakanlah, mbak Yulia kuenya cantik-cantik!
Kue itu tidak akan pernah cantik andaikan suami tidak mengijinkan saya melalui perjalanan dari 0 ke 1, ke 2, ke 3 dst.
Tidak akan kue-kue itu masuk hotel mewah ketika tidak ada dukungan suami menemani saya mengantar kue-kue pertama naik motor berdua.

Akhirnya saya jawab BBM mbak Astri, “iya ada, mau bahagiain keluarga”

Mulai hari itu saya berjanji akan serius.
Mulai hari itu saya meminta untuk diingatkan ketika tidak focus.
Mulai hari itu saya nurut, apapun kata upline, akan saya kerjakan.
Garis finishnya, mempersembahkan hasilnya untuk keluarga.

Hari pertama.

Saya mencoba, mengumumkan pada teman-teman terdekat bahwa saya sekarang selain jualan kue juga jalanin bisnis Oriflame.
Responnya beragam.
Ada yang mengucapkan selamat karena sudah ada di jalur yang tepat.
Ada yang juga ingin tahu dan minta dijelaskan.
Dan ada juga yang merespon lain, yang saya sudah siapkan hati jauh-jauh hari sebelumnya, bahwa pasti saya akan melewatinya dan pasti bisa! 

Satu demi satu penolakan. Tapi satu demi satu juga pengalaman dan ilmu yang menyertainya. Saya dulunya heran, lihat leader-leader itu, kok mereka enteng banget bilang “kalo ditolak ya jalan teruuuus”, ternyata memang semuanya lewat latihan, sama seperti dulu saya bikin satu patung dari fondant 3 hari 3 malam, lama-lama bisa dalam 1 jam, karena latihan, karena pengalaman J

Menghadapi orang yang mundur teratur, baik yang pamit, atau begitu saja pergi.
Melihat orang yang di awalnya semangat, tapi juga pergi meninggalkan saya, mungkin tanpa mengingat atau memikirkan bagaimana jaringan di bawahnya, karena bayangan kegagalan itu mungkin sudah sedemikian besar di depan matanya.

Betapa saya menyayangkan keputusannya, tapi saya tidak bisa memaksa. 

Saya hanya latihan untuk mulai mengambil nafas panjang, dan mulai mengurai benang kusut itu, bersama-sama sisa jaringannya yang masih mau berjuang, dan di banyak cerita spt itu, pada umumnya kami berhasil melewati saat-saat sulit. :)

 Orang boleh memutuskan untuk gagal. Tapi kita selalu bisa memutuskan untuk menjemput keberhasilan, bagaimanapun sulitnya.

Orang boleh bilang mana mungkin kita berhasil.
Orang boleh bilang mana mungkin kita sanggup.
Orang boleh bilang mana mungkin bisnis spt itu bisa dilakukan.
Orang boleh bilang apa saja, tapi buktikan bahwa mereka benar atau salah, setelah mencobanya SENDIRI.
Apakah kita penentu masa depan kita sendiri, atau orang lain dan prasangkanya yang akan jadi penentu masa depan kita?




---

Yulia Riani/Andri Wibowo
FB Page : makidanpaki
BBM : 7571F860
LINE ID : dryae

Share artikel ini